Selasa, 30 Januari 2024

FLU SINGAPURA: Penyebab, Tanda, Gejala, dan Pengobatannya



Beberapa waktu terakhir, mungkin ayah dan bunda sering mendengar suatu penyakit yang oleh masyarakat awam dikenal dengan nama "Flu Singapura". Bahkan mungkin banyak orangtua yang panik dan khawatir kalau anaknya akan tertular penyakit ini. Karena itu, saya mengajak ayah bunda mengenal apa itu "Flu Singapura" sehingga kita bisa melakukan upaya pencegahan, cepat mengenali gejalanya, dan juga tahu harus bertindak seperti apa jika anak terinfeksi penyakit ini.

Apa itu Flu Singapura?
Flu Singapura merupakan salah satu penyakit infeksi yang sangat menular. Penyakit ini paling banyak dialami oleh bayi dan balita. Namun, penyakit ini sebenarnya juga bisa dialami oleh orang dewasa. Penyakit ini terutama disebabkan oleh infeksi virus Coxsakie A type 16, atau bisa juga disebabkan oleh strain lain virus Coxsakie  atau Enterovirus. Flu Singapura dikenal juga dengan HFMD (Hand  Foot Mouth Disease) karena gejala dan tanda paling sering ditemukan pada tangan, mulut, dan kaki.

Gejala dan Tanda
Pada sebagian besar kasus, pasien hanya menunjukkan gejala ringan, tidak berbahaya, serta dapat dirawat di rumah. Beberapa gejala yang sering ditemukan adalah demam ringan, penurunan nafsu makan, kurang enak badan, dan keluhan seperti flu. Selain itu, gejala dan keluhan yang paling banyak dialami anak adalah nyeri pada rongga rongga mulut karena adanya luka ruam di mukosa, terutama pada sisi pipi bagian dalam, lidah, langit-langit, dan tenggorokan. Hal ini menyebabkan penurunan nafsu makan pada anak. Mereka lebih memilih minum daripada makan.

Bercak ruam juga menyebar pada kulit di area kaki dan tangan, lengan, dan pantat. Lesi kulit berukuran 2-6 milimeter, berwarna kemerahan, tidak gatal, tidak nyeri, dan disertai benjolan kecil (bintil) berisi cairan (bukan nanah). Benjolan ini dapat pecah dan menimbulkan luka yang dapat hilang tanpa bekas.


Gambar 1. Gambaran kelainan kulit pada HFMD

Penatalaksanaan
Karena HFMD disebabkan oleh virus, maka antibiotika tidak direkomendasikan untuk diberikan. Perawatan yang bisa kita berikan kepada anak yang mengalami HFMD adalah dengan mengurangi gejala (simtomatik). Untuk membantu mengatasi demam dan keluhan nyeri, kita bisa memberikan parasetamol atau obat pengurang nyeri non steroid. 

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah ayah dan bunda harus mengupayakan agar anak tetap mendapatkan asupan nutrisi dan cairan yang cukup. Kita dapat memberikan makanan dalam bentuk yang lebih lunak, misal dalam bentuk bubur, tim, atau makanan yang diblender. Asupan cairan sangat penting, karena pada kondisi sakit, anak rentan mengalami dehidrasi. Selain itu, kita juga bisa menambahkan suplemen multivitamin. Hal tersebut akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak sehingga akan mempercepat penyembuhan.

Meskipun biasanya HFMD dapat sembuh sendiri, terdapat beberapa keadaan yang harus mendapatkan perhatian. Orangtua sebaiknya membawa anak ke tenaga atau fasilitas kesehatan jika:

  • Anak tidak dapat minum secara normal dan dikhawatirkan ia mengalami dehidrasi.
  • Demam anak Anda berlangsung lebih dari 3 hari.
  • Gejala tidak membaik setelah 10 hari.
  • Anak Anda memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah (kemampuan tubuh untuk melawan kuman dan penyakit).
  • Gejala cukup berat, antara lain: dehidrasi, lepasnya kuku jari kaki dan tangan, atau terdapat gejala tanda meningitis (demam, kaku kuduk, nyeri tulang belakang/punggung hebat)
  • Anak Anda masih sangat kecil, terutama di bawah 6 bulan.

Penularan dan Pencegahan
HFMD bersifat sangat mudah menular. Penularan virus melalui saluran pernapasan dan saluran cerna, misalnya melalui makanan yang terkontaminasi virus. Karena penyakit ini banyak dialami bayi dan balita, maka kita perlu mewaspadai penularan di tempat penitipan anak atau sekolah/play group

Lalu bagaimana upaya pencegahan yang bisa kita lakukan? Tentu sebagaimana pepatah lama "Mencegah lebih baik daripada mengobati", orangtua tentu akan berupaya agar anak tidak tertular HFMD ini. Beberapa hal yang penting untuk mencegah atau mengurangi penularan antara lain:
  • menjaga kebersihan atau higiene pribadi dan anggota keluarga, misal dengan cara yang sederhana yaitu mencuci tangan dengan sabun dan menutup hidung saat bersin.
  • membatasi kontak dengan orang yang sakit
  • meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, membiasakan olahraga dan istirahat yang cukup
Catatan penting bagi orangtua yang memiliki anak yang sakit adalah untuk membatasi kontak anaknya yang sakit dengan orang sehat. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko menularkan. Jadi selama sakit, sebaiknya anak dirawat di rumah dan tidak banyak dibawa ke tempat umum, misalnya TPA atau sekolah.

Bagaimana? Semoga artikel ini bermanfaat ya.
see u


Referensi
  1. CDC, 2023, Hand, Foot, and Mouth Disease Hand, Foot, and Mouth Disease | CDC
  2. Guerra AM, Orille E, Waseem M. Hand, Foot, and Mouth Disease. [Updated 2023 Mar 4]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431082/
  3. Hand, foot, and mouth disease in adults: Symptoms and treatment (medicalnewstoday.com)


Minggu, 28 Januari 2024

SUB-PIN POLIO: MENGAPA HARUS?

Pemerintah mencanangkan program Sub-PIN Polio pada awal Januari 2024. Program ini menyasar anak anak balita dan anak sekolah sampai usia 8 tahun. Program tersebut merupakan tindak lanjut adanya dua temuan kasus terkonfirmasi polio di Klaten dan Madura. Sebenarnya, ini bukanlah temuan pertama setelah pada tahun 2014 Indonesia dinyatakan bebas polio. Sebelumnya,  terdapat tiga temuan kasus polio di Aceh dan satu kasus di Jawa Barat.

vaksin polio
Gambar 1. Pemberian vaksin Polio oral pada anak ( )

Beberapa pertanyaan yang sering muncul di masyarakat terkait Polio dan Program Sub-PIN Polio antara lain:

Apakah penyakit Polio itu dan bagaimana penularannya?
Poliomyelitis atau Polio adalah penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus Polio. Penyakit ini terutama di alami oleh anak balita. Virus menular melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh virus Polio. Kelompok yang rentan terinfeksi virus ini adalah anak-anak dan kelompok dengan imunitas rendah.

Apa gejala dan tanda penyakit Polio?
Gejala infeksi polio sangat bervariasi. Seringkali, orang yang tertular tidak mengalami gejala (asimtomatik) dan tidak memiliki gejala sisa. Sebagian yang lain mungkin mengalami gejala ringan, kelumpuhan, bahkan sampai mengalami kematian. Hal tersebut sangat ditentukan oleh status imunitas pasien.

Kapan Sub-PIN Polio dilaksanakan?
Sub-PIN dilaksanakan serentak di 3 (tiga) wilayah, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai tanggal 15 Januari 2024. Anak-anak yang menjadi kelompok sasaran akan diberikan 2 (dua) kali vaksinasi polio dengan jeda waktu satu bulan. Vaksin diberikan dalam bentuk tetes oral.

Apakah manfaat Sub-PIN bagi anak?
Vaksinasi polio pada program Sub-PIN Polio bertujuan untuk meningkatkan imunitas anak terhadap virus Polio yang mungkin berkembang dan mencemari lingkungan, terutama di daerah sekitar ditemukannya kasus Polio. 

Bagaimana cara mengikuti Sub-PIN Polio?
Sub-PIN Polio dilaksanakan di fasilitas kesehatan dan sekolah. Karena itu, orangtua dapat membawa anaknya ke Puskesmas, faskes lain dan juga Posyandu di dekat tempat tinggalnya. Petugas Puskesmas juga menyediakan layanan vaksinasi melalui sekolah dasar untuk menyasar anak sekolah (sampai usia 8 tahun).

Apakah kontraindikasi anak mengikuti Sub-PIN Polio?
Vaksin Polio tidak boleh diberikan pada anak yang memiliki riwayat alergi terhadap vaksin Polio, anak yang sedang mengalami diare, sakit berat disertai demam, anak dengan imunitas rendah, atau anak yang sedang mendapatkan terapi imunosuppresan (obat yang menekan sistem imun).

Apakah komplikasi pemberian vaksin polio tetes?
Pemberian vaksin Polio secara tetes tidak menimbulkan komplikasi seperti demam pada anak. 

Vaksinasi Polio bertujuan untuk meningkatkan kekebalan anak, mengurangi risiko penularan, serta mencegah gejala berat. Karena itu, jangan ragu untuk membawa anak untuk mendapatkan vaksin Polio!



Referensi

  1. Chumakov K, Ehrenfeld E, Agol VI, Wimmer E. Polio eradication at the crossroads. Lancet Glob Health. 2021 Aug;9(8):e1172-e1175. doi: 10.1016/S2214-109X(21)00205-9. Epub 2021 Jun 9. PMID: 34118192.  link 
  2. Minor PD. An Introduction to Poliovirus: Pathogenesis, Vaccination, and the Endgame for Global Eradication. Methods Mol Biol. 2016;1387:1-10. doi: 10.1007/978-1-4939-3292-4_1. PMID: 26983727. link
  3. Pucchio AMR, Alabdulraheem A, Salvadori MI. Polio. CMAJ. 2022 Nov 15;194(44):E1509. doi: 10.1503/cmaj.221320. PMID: 36379554; PMCID: PMC9828935.  link
  4. The Lancet Microbe. Polio eradication, elusive but achievable. Lancet Microbe. 2023 Dec;4(12):e963. doi: 10.1016/S2666-5247(23)00371-3. PMID: 38042153. link
  5. World Health organization. 2023. Poliomyelitis. link
  6. www.polioeradication.org 




CEGAH STUNTING DARI DINI

image source: pexels.com   image source: pexels.com